Yogyakarta, 26 November 2025 – Ahmad Suparmin, S.P., M.AgrSc., Ph.D., peneliti muda dari Program Studi Bioteknologi, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), tengah melakukan kajian inovatif mengenai keberagaman fungi yang bersimbiosis dengan lebah tidak bersengat (stingless bee) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penelitian ini diharapkan membuka peluang baru dalam bidang bioteknologi lingkungan serta mendukung upaya konservasi biodiversitas lebah.
Lebah tidak bersengat alias klanceng, di antaranya Tetragonula laeviceps dan Heterotrigona itama merupakan serangga penting bagi ekosistem lokal dan banyak dijumpai di wilayah DIY. Berbeda dengan lebah madu pada umumnya, stingless bee tidak memiliki sengat sehingga lebih aman untuk dibudidayakan. Jenis lebah ini menghasilkan madu, propolis, dan bee pollen yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta manfaat kesehatan, termasuk sifat antimikroba dan antioksidan.
Menurut Ahmad, yang memiliki fokus riset pada environmental biotechnology serta interaksi antara fungi dan serangga, kajian mengenai keberagaman fungi yang berasosiasi dengan lebah di Indonesia masih sangat terbatas. Hal ini menjadi salah satu alasan utama bagi dirinya untuk melakukan penelitian lebih mendalam di bidang tersebut. Dalam penelitiannya, Ahmad menyoroti interaksi antara fungi dan koloni lebah tidak bersengat. “Fungi yang hidup pada tubuh lebah maupun di dalam sarangnya memiliki keberagaman sangat tinggi. Sebagian di antaranya berperan membantu lebah melawan patogen, meningkatkan imunitas koloni, hingga memproduksi senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan menjadi obat-obatan baru atau biopestisida ramah lingkungan,” ujarnya.
Penelitian dilakukan di berbagai lokasi di DIY, termasuk Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, dan Bantul yang masih memiliki populasi lebah tidak bersengat cukup melimpah. Sampel fungi diisolasi dari tubuh lebah, larval food, propolis, serta honey pot. Temuan awal menunjukkan adanya beberapa jenis fungi baru yang belum banyak diteliti, termasuk fungi dengan aktivitas enzimatik tinggi yang berpotensi dimanfaatkan sebagai agen biopestisida maupun biopharmaceutical lainnya.
Ahmad menjelaskan bahwa keberagaman fungi sangat dipengaruhi kondisi lingkungan DIY yang kaya vegetasi tropis. “DIY memiliki habitat ideal bagi lebah tidak bersengat. Namun ancaman deforestasi, perubahan iklim, serta penggunaan pestisida secara masif dapat mengurangi keberagaman dan kelestarian lebah. Penelitian ini tidak hanya bertujuan mendokumentasikan keberadaan fungi, tetapi juga mengembangkan aplikasi bioteknologi, seperti pemanfaatan metabolit sekunder fungi untuk industri farmasi atau pertanian berkelanjutan,” tambahnya.
Penelitian ini mendapat dukungan dari Sekolah Pascasarjana UGM, berkolaborasi dengan ahli serangga dari Fakultas Pertanian UGM, Dr. Suputa, kolega di Kyoto University, serta dosen muda dari Departemen Teknik Kimia dan Geografi Lingkungan. Sinergi lintas disiplin (inter-disciplinary) tersebut menjadikan kajian ini lebih komprehensif. Ke depan, penelitian juga diharapkan dapat berkolaborasi dengan para peternak lebah lokal serta komunitas meliponikultur (budidaya lebah tidak bersengat) yang semakin berkembang di Yogyakarta. Hasil akhir penelitian ditargetkan dapat dipublikasikan dalam jurnal internasional sebagai dasar pengembangan produk bioteknologi berbasis biodiversitas lokal.
Inisiatif penelitian ini semakin menegaskan posisi UGM sebagai pusat riset bioteknologi terdepan di Indonesia sekaligus memperkuat upaya pelestarian lebah tidak bersengat yang memiliki peran penting dalam penyerbukan tanaman pangan dan menjaga keseimbangan ekosistem.